
SINTANG [www.mediakapuasraya.com]- Persoalan infrastruktur jalan hingga akses menuju perkebunan masih menjadi keluhan masyarakat di sejumlah desa di Kecamatan Sepauk dan Tempunak, Kabupaten Sintang. Kondisi jalan yang belum memadai dinilai menghambat aktivitas warga, termasuk pengangkutan hasil perkebunan kelapa sawit.
Hal tersebut disampaikan Anggota DPRD Kabupaten Sintang dari Daerah Pemilihan (Dapil) Sepauk-Tempunak, Kusnadi, saat diwawancarai usai Musyawarah Daerah (Musda) DPC PKB Sintang di Hotel Bagoes, Kamis (29/10/2026).
Kusnadi menyebutkan, ada sejumlah aspirasi masyarakat dari lima desa yang menjadi perhatian. Kelima desa tersebut yakni Desa Kenyabur Baru di Kecamatan Tempunak, serta Desa Temawang Bulai, Desa Manisraya, Desa Sungai Segak, dan Desa Pagal Baru di Kecamatan Sepauk.
Menurut Kusnadi, masyarakat masih mengharapkan adanya perhatian pemerintah daerah terhadap pembangunan dan peningkatan infrastruktur jalan. Selain itu, persoalan pelayanan kesehatan juga menjadi salah satu kebutuhan yang disampaikan warga.
Namun, salah satu persoalan yang cukup banyak dirasakan masyarakat adalah keterbatasan akses jalan produksi perkebunan. Saat ini, masyarakat mulai mengembangkan tanaman perkebunan seperti kelapa sawit sehingga membutuhkan akses jalan yang memadai untuk menjangkau kebun dan mengangkut hasil panen.
Kondisi jalan yang sulit dilalui membuat pengangkutan hasil perkebunan menjadi terkendala. Bahkan, hasil produksi sawit masyarakat tidak selalu bisa dikeluarkan karena akses jalan menuju lokasi perkebunan belum mendukung.
“Masukan dari masyarakat terkait infrastruktur jalan masih menjadi bagian yang diperlukan. Kemudian masalah kesehatan juga perlu mendapat perhatian dan solusi dari pemerintah daerah,” kata Kusnadi.
Legislator PKB ini menjelaskan, pembangunan jalan produksi perkebunan juga penting karena berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Tanpa akses yang memadai, potensi perkebunan yang dikembangkan warga belum bisa memberikan hasil maksimal.
“Sekarang masyarakat sedang menggalakkan penanaman tanaman perkebunan seperti sawit dan sejenisnya. Mereka perlu dibantu jalan untuk menuju kebun. Rata-rata masyarakat kesulitan mengeluarkan hasil buminya karena produksi sawit terkendala akses jalan,” ungkapnya.
Kusnadi berharap berbagai aspirasi tersebut dapat menjadi perhatian pemerintah daerah, sehingga pembangunan infrastruktur tidak hanya berfokus pada jalan utama, tetapi juga memperhatikan akses menuju sentra-sentra perkebunan masyarakat.
“Harapan kami, aspirasi masyarakat ini bisa mendapat perhatian dan ditindaklanjuti pemerintah daerah agar aktivitas masyarakat, khususnya dalam mengangkut hasil perkebunan, bisa berjalan lebih lancar,” ujar Kusnadi.






