Tiang Gumi Lambang Keagungan Bagi Masyarakat Adat
SEKADAU ( www.mediakapuasraya.com ) – Selain beberapa jenis simbol tradisional yang ada dikalangan masyarakat adat dan mungkin tak semua generasi memahami maknanya. Ada juga yang disebut Tiang Gumi, sejenis pohon yang sengaja dipajang dengan dibubuhi berbagai motif dan ukiran yang tentunya memiliki makna yang sangat berarti dalam kehidupan sehari-hari dilingkungan masyarakat.
Tiang Gumi biasanya didirikan saat pesta gawai besar masyarakat. Makna Tiang Gumi itu sendiri hampir serupa dengan Obelis zaman pra romawi- yunani yang ada dikota vatican atau seperti yang ada tepat didepan gedung putih sebagai bentuk simbol kepercayaan kepada yang maha kuasa.
Ukiran atau relief yang tertera juga memiliki makna tersendiri dan maksud tertentu. Seperti Pacat/lintah sebagai simbol darah dan kehidupan, Manusia yang sedang berdialog melambang tingginya nilai solidaritas masyarakat yang selalu mengutamakan musyawarah dan mufakat dalam memutuskan segala sesuatu.
Bunga pakis melambangkan keindahan dalam kehidupan ibaratkan lekukan bunga ataupun pucuk pakis yang elegan.
Tempayan melambangkan simbol keakraban dan keramahtamahan masyarakat serta biasanya digunakan sebagai tempat menyimpan beras dan tuak.
Akar Kencarik melambangkan perjuangan hidup manusia serta laki-laki dan perempuan hamil melambangkan prokreasi dan regenerasi, Ujar ketua panitia Gawai Drs. Nicodemus Bohot dengan semangatnya.
Dikatakannya pula, Tiang Gumi juga berhiaskan bendera yang mana pada tradisi terdahulu sebelum masuknya agama dilingkungan masyarakat segala sesuatu dibuat sejenis persembahan yang disimpan ditempat yang dianggap keramat.
Oleh karena itu terdapat ukiran seperti kepala enggang yang bertopi serta ekor ikan tengadak menghadap matahari mati ( Barat ) dan matahari terbit ( Timur ).
Melalui kedua perantara tersebut segala doa dilambungkan keatas melalui burung enggang dan ketanah serta ke air melalui ikan tengadak, terangnya.
Sementara simbol lainnya seperti Rancak dari bambu sebagai wadah korban syukur manusia kepada Duata petara ( Jubata-red ) serta bendera yang terpasang diatas melambangkan keagungan dan sebagai tanda gawai besar ( huge party ).
Menurutnya pula, hampir sebagian besar daerah yang ada di indonesia tak semuanya masih melestarikan adat dan tradisinya yang telah diwariskan.
Melalui gawai dayak sekadau ini, Ia berharap seluruh generasi muda indonesi khususnya kabupaten sekadau untuk tidak begitu saja melupakan tradisi yang ada.
” Ini kan kekayaan budaya kita, saya mengajak generasi muda untuk bersama-sama melestarikan adat dan budaya kita. Karena ini juga aset daerah kita ” , pungkasnya. (Herman)




