SINTANG [www.mediakapuasraya.com]- Upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Sintang tidak cukup hanya mengandalkan program pemberian makanan bergizi dan pemeriksaan kesehatan. Perubahan perilaku hidup bersih dan sehat harus dimulai dari lingkungan keluarga, termasuk memastikan setiap rumah memiliki jamban atau WC sendiri.
Sekretaris Daerah Kabupaten Sintang sekaligus Duta Stunting Kabupaten Sintang, Kartiyus, mengingatkan seluruh masyarakat agar tidak lagi bergantung pada jamban di sungai. Menurutnya, kepemilikan WC di rumah merupakan salah satu kebutuhan penting untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan mencegah penyakit yang dapat mengganggu pertumbuhan anak.
Pesan tersebut disampaikan Kartiyus saat membuka dan memberikan pengarahan pada Lokakarya Mini Lintas Sektor Wilayah Kerja Puskesmas Tanjungpuri di Aula CU Keling Kumang, Kecamatan Sintang, Kamis (29/10/2026).
“Saya mengingatkan semua rumah harus punya WC sendiri. Kalau bisa, jamban yang ada di sungai dibongkar saja karena sudah jarang digunakan. Tetapi kita lakukan pelan-pelan, jangan dipaksakan. Yang penting masyarakat mulai membiasakan diri memiliki WC di rumah,” kata Kartiyus.
Ia menilai persoalan sanitasi tidak boleh dianggap sepele karena berkaitan dengan kesehatan ibu dan anak. Lingkungan yang tidak sehat dapat meningkatkan risiko penyakit, termasuk gangguan kesehatan yang berpengaruh terhadap pemenuhan gizi dan pertumbuhan anak.
Selain kepemilikan jamban, Kartiyus meminta masyarakat memperhatikan ketersediaan air bersih, kesehatan ibu hamil serta pemantauan tumbuh kembang anak, terutama yang berusia di bawah dua tahun.
“Kalau semua rumah memiliki WC, tersedia air bersih, ibu hamil rutin memeriksakan kandungan, kemudian anak di bawah dua tahun rutin diperiksa kesehatannya dan kebutuhan gizinya terpenuhi, kita bisa mencegah risiko stunting sejak awal,” ujarnya.
Kartiyus juga meminta orang tua dan keluarga tidak menyerahkan sepenuhnya urusan kesehatan anak kepada petugas kesehatan. Orang tua harus aktif memantau berat badan dan tinggi badan anak. Jika ditemukan perkembangan yang tidak sesuai, segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Ia bahkan meminta petugas terkait memberikan penanganan khusus terhadap anak yang terindikasi mengalami kekurangan gizi, disertai pemantauan perkembangan secara rutin setidaknya selama tiga bulan.
Menurut Kartiyus, pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah kecamatan, desa dan kelurahan, tenaga kesehatan, kader PKK hingga keluarga.
“Perubahan kebiasaan hidup sehat di tingkat rumah tangga menjadi bagian penting agar upaya menurunkan stunting benar-benar memberikan hasil,” pungkasnya.





