Petani Mandiri Elemen Penting dalam Produksi Berkelanjutan

Barometer Kelapa Sawit, yang pertama menantang persepsi publik negatif terhadap keberlanjutan kelapa sawit

JAKARTA [www.mediakapuasraya.com]- Industri kelapa sawit yang bernilai 282 triliun dolar memberikan profit besar kepada banyak perusahaan. Sementara para petani kelapa sawit mandiri berisiko terjebak dalam kemiskinan. peran penting para petani kelapa sawit mandiri di sektor ini telah memberikan kontribusi sekira 30% dari produksi global, dan seringkali terlupakan dalam agenda keberlanjutan dan kelestarian, karena kebijakan yang ada cenderung berfokus pada perkebunan besar berskala industri. Dan dengan kontribusi yang diharapkan terus bertambah, peran para petani kelapa sawit mandiri menjadi semakin penting sebagai pusat dalam pembangunan ekonomi daerah dan pelestarian keanekaragaman hayati. Pentingnya peran minyak kelapa sawit sebagai bahan dasar utama bagi kelompok orang yang termiskin di bumi, serta keanekragaman produk turunannya seperti margarin, shampoo, dan biodiesel, kelapa sawit akan terus dibutuhkan. Inklusi petani mandiri dalam rantai pasok merupakan hal penting untuk keberlanjutan produksi minyak kelapa sawit.

Barometer Kelapa Sawit yang pertama kali dicetuskan oleh Solidaridad dan organisasi petani produsen di Asia, Afrika, Amerika Selatan, memberikan perspektif baru terhadap debat publik negatif tentang kelapa sawit di negara Barat. Tanaman kontroversial ini menyajikan lebih banyak isu dan kesempatan di luar apa yang selama ini disadari oleh banyak orang.

 

Penggundulan hutan dan kemiskinan memiliki keterkaitan

Proses produksi minyak kelapa sawit digadang-gadang di media sebagai penyebab terjadinya penggundulan hutan, hilangnya keanekaragaman hayati, dan perubahan iklim. Namun, dengan mengisolasi dampaknya terhadap lingkungan dari krisis kemiskinan, yang terkait langsung dengannya, mudah untuk mengabaikan peran penting yang dimainkan petani mandiri dalam produksi minyak kelapa sawit. Meskipun gambaran tentang bagaimana perusahaan besar berekspansi dengan menanam kelapa sawit sebagai lahan monokultur memang nyata adanya, namun lebih dari tiga juta petani mandiri dan keluarga merekalah yang memproduksi sekitar 30% minyak sawit dunia. Dan banyak orang mencari pekerjaan di sektor produksi kelapa sawit. Di Indonesia sendiri ada sekitar 16 juta pekerja di sektor kelapa sawit, yang mayoritas dipekerjakan oleh petani mandiri. Kontribusi petani mandiri dalam keseluruhan pasokan minyak sawit diperkirakan akan meningkat, karena perusahaan skala industri terpaksa membatasi ekspansi karena komitmen nol deforestasi.

 

Shatadru Chattopadhayay, Direktur Pelaksana Solidaridad Asia menyatakan, “Petani mandiri menghasilkan bahkan tidak sampai 2% dari minyak sawit berkelanjutan bersertifikat, namun pada saat yang sama menyumbang 30% dari pasokan dunia. Pemerintah dan lembaga sertifikasi harus menjadikan inklusi petani sebagai bagian dari kriteria keberlanjutan mereka.”

 

Dalam industri kelapa sawit multi-miliar dolar, petani mandiri tidak mendapatkan bagian yang adil

Petani mandiri menghasilkan USD 17 miliar dari total omset industri kelapa sawit sebesar USD 282 miliar pada tahun 2020, namun banyak yang tidak mendapatkan cukup penghasilan untuk menutupi biaya hidup keluarga mereka. Meskipun demikian, banyak petani mandiri lebih memilih menanam kelapa sawit daripada tanaman lain, seperti karet atau kopi, karena mereka memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan lebih konsisten sepanjang tahun. Bagi banyak petani mandiri, menanam kelapa sawit memberi mereka prospek yang lebih baik dan mengurangi kemiskinan.

Beberapa faktor dapat mempengaruhi profitabilitas pertanian, termasuk ukuran, biaya tenaga kerja, akses pasar, harga dan biaya pupuk. Harga pasar yang fluktuatif menekan margin petani yang sudah sempit.

“Semakin sulit bagi petani dengan semua perubahan harga ini. Ada yang merasa 50 persen mata pencaharian mereka hilang karena harga Tandan Buah Segar dipangkas dan pada saat yang sama harga pupuk serta pestisida naik lebih dari 100%,” kata Valens Andi, Kepala Bidang sebuah koperasi petani di Kalimantan Barat, Indonesia, kepada Al-Jazeera.

Menghadapi kondisi genting ini, banyak petani mandiri tidak dapat berinvestasi untuk kebutuhan inovasi pertanian atau untuk mematuhi standar keberlanjutan. Pada tahun 2030 perkebunan rakyat Indonesia akan mencapai sekitar 60% dari luas lahan kelapa sawit milik negara. “Mendukung petani mandiri untuk berproduksi secara berkelanjutan akan menjadi tantangan utama di tahun-tahun mendatang,”ujarnya.

 

Distribusi nilai wajar adalah inti dari produksi minyak sawit berkelanjutan

Sementara petani mandiri berjuang untuk memenuhi kebutuhan, di ujung lain dari rantai produsen makanan, perusahaan barang konsumsi dan ritel mengambil 66% dari keuntungan kotor minyak sawit dalam produk makanan dan rumah tangga dan perawatan tubuh. Fokus pada pemotongan biaya untuk mengoptimalkan keuntungan sangat kontras dengan komitmen keberlanjutan masing-masing perusahaan, serta iklim global dan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB.

Kekhawatirannya adalah bahwa pembeli minyak sawit global menunjukkan keinginan yang rendah untuk memberi kompensasi kepada produsen kecil agar dapat beroperasi secara berkelanjutan, misalnya, dengan membayar harga yang wajar dan berinvestasi dalam hubungan perdagangan jangka panjang. Distribusi nilai dan risiko yang lebih adil di seluruh rantai nilai minyak kelapa sawit memungkinkan petani untuk berproduksi secara berkelanjutan dan menghasilkan pendapatan yang mampu menopang mata pencaharian keluarga mereka.

 

Hentikan pemboikotan dan mulailah berinvestasi dalam produksi minyak kelapa sawit yang baik

Kepentingan petani mandiri tidak hanya diabaikan dalam rantai nilai, peran dan kepentingan mereka juga diabaikan dalam debat publik. Kampanye oleh LSM dan merek komersial menyerukan pemboikotan minyak kelapa sawit untuk memerangi hilangnya keanekaragaman hayati. Banyak akademisi dan organisasi konservasi setuju bahwa pelarangan kelapa sawit hanya akan mengalihkan masalah ke tempat lain, mengancam habitat dan spesies lain. Kelapa sawit jauh lebih produktif ketimbang tanaman minyak nabati lainnya, contohnya, rata-rata lima kali lebih produktif daripada kedelai. Mengganti minyak sawit dengan minyak alternatif justru akan mengintensifkan pertempuran untuk kelangkaan lahan pertanian. Alih-alih memboikot minyak sawit, industri seharusnya berinvestasi dalam produksi minyak sawit berkelanjutan oleh petani mandiri.

 

Bawa suara petani mandiri ke garis depan

Organisasi petani harus memainkan peran kunci dalam perdebatan tentang masa depan pertanian kelapa sawit. Berfokus pada distribusi nilai yang adil dan meminimalisir degradasi lingkungan adalah kuncinya. Sektor swasta dan Pemerintah perlu beralih dari bantuan teknis ke program yang mengatasi kelemahan struktural di tingkat petani mandiri. Solusi tidak akan sama di semua tempat, dan harus diberikan dalam bentuk kombinasi pendekatan yang bersifat sukarela dan wajib. Heske Verburg, Direktur Pelaksana Solidaridad Eropa merekomendasikan bahwa, “Perusahaan dan Pemerintah di wilayah konsumsi dan produksi harus menyertakan kepentingan petani mandiri saat mengembangkan dan menerapkan kebijakan. Uni Eropa harus memastikan bahwa petani mandiri akan didukung untuk memenuhi persyaratan Peraturan Uni Eropa tentang produk bebas deforestasi dan dalam kemitraan dengan negara-negara produsen demi mengatasi akar penyebab deforestasi, termasuk kemiskinan.”

 

SOLIDARIDAD

__Terbit pada
16/09/2022

Penulis: Admin Media Kapuas Raya