501 Petani Sawit Mandiri di Sekadau Berhasil Kantongi Sertifikat RSPO

SEKADAU, KALBAR [www.mediakapuasraya.com]- Sebanyak 501 orang petani sawit mandiri di Kabupaten Sekadau Kalimantan Barat yang tergabung dalam Aliansi Petani Kelapa Sawit Keling Kumang (APKS-KK) telah⁰ berhasil mengantongi sertifikat internasional RSPO.

APKS-KK merupakan salah satu kelompok alumni Sekolah Lapangan yang didampingi oleh Solidaridad bersama dengan Keling Kumang sejak tahun 2013. Dengan anggota lebih dari 900 orang.

Penyerahan Sertifikat dilakukan oleh Bupati Sekadau Aron di Kantor Pusat CU Keling Kumang di Desa Tapang Semadak Sekadau, Sabtu 25 Juni 2022.

Bupati mengatakan Kelapa sawit sekarang ini menjadi komoditas primadona yang dikembangkan masyarakat. Sayangnya harga TBS sedang anjlok. Padahal komoditi tersebut sangat diandalakan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Turun harga TBS ini terjadi secara nasional dan kita di daerah terus mendorong agar harga TBS bisa lebih baik,” ujar Aron.

Disatu sisi, bupati juga bangga karena petani sawit di Sekadau telah berhasil mengantongi sertifikat RSPO. Ia juga mengapresiasi kepada CUKK dan Solidaridad yang telah memberikan pendampingan.

“Di Kabupaten Sekadau ini lebih dari 30.000 hektar lahan sawit masyarakat tapi produksinya masih kurang. Ini perlu pembinaan yang berkelanjutan baik dari Pemerintah maupun pihak swasta seperti yang dilakukan CUKK dan Solidaridad,” ujar Aron.

Ketua pengurus Keling Kumang Agro, Mikael mengatakan keberhasilan mengantongi sertifikat internasional RSPO merupakan capaian yang sangat luar biasa. Hal tersebut menandakan apa yang sudah dikerjakan Keling Kumang dan Solidaridad membuahkan hasil yang diharapkan.

“Bukan hanya kami yang bahagia tapi juga Pemkab Sekadau. Sertifikat RSPO yang diterima petani kita ini adalah yang pertama di Kalimantan Barat,” ujar Mikael.

Pekerjaan pendamping yang sudah dilakukan kepada petani memberikan manfaat. Meski begitu tantangan dari capaian tersebut mesti harus diikuti dengan program yang berkelanjutan.

“Harapan kepada petani bahwa keberlanjutan itu penting, bukan hanya admintrasi tapi hasil juga perlu ditingkatkan,” harapnya.

“Tidak dapat kita pungkiri kita merasa kecewa harga TBS (Tandan Buah Segar) turun, tapi dengan adanya RSPO ini kita upayakan mudah mudahan penjualan TBS bisa langsung kepada perusahaan sehingga memperoleh harga yang lebih baik,” tambahnya.

Programme Officer Solidaridad Kalbar Edi Dastra

Programme Officer Solidaridad Edi Dastra mewakili Program Koordinator Solidaridad Kalbar mengatakan APKS-KK menjadi salah satu kelompok tani terbesar di Kalimantan Barat. Kelompok yang memiliki kantor di daerah Tapang Semadak ini telah berhasil meloloskan 501 orang anggotanya dalam proses audit eksternal RSPO yang dilaksanakan pada tahun 2021 dengan hasil nol temuan.

“Proses panjang yang cukup memiliki dinamika dan tak bisa dibilang muda ini akhirnya mengantarkan APKS-KK menjadi kelompok petani kelapa sawit swadaya pertama di Kalimantan Barat yang mengantongi sertifikat RSPO sejak bulan Februari 2022,” ujarnya.

Ada cukup banyak kriteria dan prinsip RSPO yang harus dipenuhi oleh para petani saat mengajukan sertifikat untuk kebun mereka, diantaranya adalah harus menerapkan Praktik Pertanian Lestari yang ramah lingkungan, menggunakan bibit bersertifikat untuk kebutuhan budidaya, memiliki pengetahuan dasar tentang gender, dan turut aktif dalam upaya konservasi hutan dan alam di lingkungan mereka.

“Mereka harus melalui proses verifikasi dan audit eksternal yang ketat sebelum bisa mendapatkan sertifikat RSPO,” ujarnya.

Ia membandingkan bahwa sebelum mengikut standar dan prinsip RSPO, para petani ini jarang mencatat jadwal pemupukan ataupun perawatan lainnya Selain itu, limbah B3 (bahan berbahaya dan beracun) juga tidak dikelola secara seksama, begitu pula halny dengan penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang sebelumnya jarang dipatuhi pemakaiannya.

“Setelah mengikuti proses standarisasi RSPO, kesemua itu berubah menjadi lebih tertib dan terstruk Seluruh tahapan perawatan selalu dicatat dalam Jurnal Petani, limbah B3 ditangani dengan tepat dan aman serta para petani selalu menggunakan APD jika berkegiatan di kebunnya masing-masing. Mereka dengan tekun menerapkan praktik budidaya kelapa sawit yang ramah sosial sekaligus ramah lingkungan sesuai denga kriteria dan prinsip RSPO,” bebernya.

Pada dasarnya, pemenuhan kriteria dan prinsip RSPO ini merupakan sebua perjalanan behavioural change, atau perubahan kebiasaan, yang tentu saja memiliki lika-liku tersendiri dan bukan hal sepele untuk dilakukan. Perlu komitmen dan kesadaran tinggi agar kepatuhan terhadap berbaga indikator yang ada bisa terpenuhi dengan baik dan lolos proses audit dari pihak RSPO.

“Kerja keras dan ketekunan 501 orang petani ini berbuah manis tidak hanya berupa sertifikat RSPO, namun mereka juga sudah berhasil mendapatkan insentif dari penjualan RSPO Credits seharga USD42,210 atau kuran lebih sebesar Rp. 600,0000,000. Hasil penjualan ini masuk ke kas APKS-KK dan akan dikelola oleh Group Manager mereka yang bertindak sebagai Internal Control System (ICS) atau Sistem Kendali Internal. Hal in tentu saja merupakan sebuah prestasi besar untuk kalangan petani kelapa sawit mandiri di Kalimantan Barat dan diharapkan akan menjadi motivasi bagi petani kelapa sawit mandiri lainnya untuk mengikuti jejak kesuksesan mereka. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa sertifikat RSPO memang memberikan manfaat dan insentif bagi petani mandiri,” pungkasnya.

Ketua Gerakan CU Keling Kumang Stefanus Masiun sangat mengapresiasi dan merasa bangga karena kelompok petani sawit yang pihaknya dampingi telah berhasil mengantongi sertifikat RSPO. Menurutnya kelompok petani swadaya tersebut berhasil mencetak sejarah di Kalimantan Barat.

“Ini sangat membanggakan. Saya selalu memantau proses untuk mendapatkan sertifikat tersebut, kita semua bangga ini terwujud. Ini menjadi berita baik dalam pengembangan pengelolaan kelapa sawit,” ujarnya.

Ia menyampaikan bagi gerakan CUKK capaian tersebut adalah pertanda dalam mendukung pondasi sosial, pondasi finasial dan pondasi lingkungan.

“Indikator lingkungan di RSPO sangat kuat. Pengelolaan perkebunan kelapa sawit harus berkelanjutan namun harus menjaga kawasan konservasi dan ramah lingkungan,” pungkasnya.

“Ancaman lingkungan semakin nyata. Maka kita dorong keluar perdes tentang pengelolaan kawasan konservasi tinggi,” tambahnya.

Yasintus Lukas Anggota kelompok tani Usaha Bersama mengaku produksi sawitnya meningkat pasca pendampingan dari CUKK dan Solidaridad. Pria yang memiliki lahan sawit seluas sekitar dua hektar ini bisa mengasilkan TBS seberat 6,5 Ton.

“Sebelumnya hanya 3 ton saja. Kita didampingi dan diedukasi cara mengurus kebun yang baik, sehat dan ramah lingkungan dan itu terbukti produksinya meningkat,” ujarnya.

Ia mengatakan akan tetap maksimal mengelola kebun meski harga TBS sedang anjlok. Karena ia yakin harga TBS kedepan bisa meningkat lagi.

Ia juga bangga menjadi salah satu petani sawit yang telah mengantongi sertifikat RSPO.

“Kita bangga diakui dunia tidak sia sia 3 tahun pendampingan. Ini tentu tidak mudah namun berkat dedikasi yang tinggi bisa terwujud,” pungkasnya.

 

(Timot)

 

__Terbit pada
26/06/2022

Penulis: Admin Media Kapuas Raya