Tuah Mangasih : Jangan Ada Stigman, Positif Corona Bukan Aib

Anggota DPRD Sintang, Tuah Mangasih

SINTANG [www.mediakapuasraya.com]- Orang yang reaktif dari pemeriksaan rapid tes dan didaftarkan sebagai orang tanpa gejala (OTG) di kabupaten Sintang meningkat dan telah menyentuh anggka 200 orang. Banyaknya OTG memunculkan kecemasan di tengah masyarakat.  Dikhawatirkan munculnya stigma negatif kepada para OTG.

Anggota DPRD Sintang Tuah Mangasih, ST.M.Si mengingatkan kepada masyarakat, bahwa hal ini hendaknya menjadi kesempatan bagi masyarakat untuk lebih saling peduli. Beliau juga menghimbau agar masyarakat tetap mengikuti anjuran dari pemerintah untuk menjaga kesehatan dan melakukan pola hidup sehat.

“Dengan meningkatnya hasil rapid tes yang reaktif maka kita semua harus meningkatkan kewaspadaan kita akan menyebarkan covid-19. Bersama-sama kita bisa memutus rantai penyebaran virus tersebut,” ujarnya.

Tuah mengingatkan agar tidak ada stigma negatif kepada mereka yang sudah reaktif atau bahkan yang sudah dinyatakan positif covid-19 sebab tidak ada orang yang mau terjangkiti oleh virus tersebut.

“Sekalipun terjangkiti itu bukan aib, bukan dosa dan bukan pula kutukan, bisa terjadi kepada siapapun. Sebaiknya kita harus memberikan dukungan moril dan bahkan jika memungkinkan berikan juga dukungan materiil kepada mereka yang sudah terpapar Corona virus dan keluarganya. Disaat-saat seperti ini rasa kemanusiaan kita sedang di uji. Mari semakin peduli dengan sesama,” ajak politisi PDI Perjuangan tersebut.

Kepala Dinas Kesehatan Sintang, dr. Harysinto Linoh menyampaikan secara detail proses pembacaan rapid tes, agar masyarakat dapat lebih mengerti dan lebih tenang dengan melonjaknya angka OTG di Sintang.

“Terlepas dari tingginya angka OTG itu saya mau menyampaikan, rapid tes ini bukan pemeriksaan pasti untuk infeksi korona. Bukan! Rapid test ini adalah pemeriksaan apakah dibadan kita itu, sudah terbentuk antibody terhadap infeksi virus. Bisa virus korona, bisa virus parainfluenza, macam-macam virus. Nah, untuk memastikannya adalah menggunakan metode PCR (polymerase chain reaction) yang lewat swab tenggorokan,” ungkap dr. Sinto.

“Jadi masyarakat juga jangan memberikan stigma negatif terhadap orang-orang yang sudah dinyatakan rapid test reaktif. Berarti dia sudah korona. Bukan! Bukan seperti itu. Rapid tes tidak untuk memberikan diagnosa korona. Tetapi rapid tes untuk kita melakukan pelacakan pada kasus-kasus yang mungkin terjadi. Jadi penggunaan rapid tes ini harus benar-benar bijak,” tegasnya lagi. (mo)

__Terbit pada
16/05/2020
__Kategori
Parlemen, Sintang

Penulis: Admin Media Kapuas Raya