Jeffray Harap Tak Terjadi Karhutla di Sintang

Ketua DPRD Sintang, Jeffray Edward

SINTANG [www.mediakapuasraya.com] – Perhatian Pemerintah Pusat untuk pencegahan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) terus dilakukan. Hal itu pula membuat Ketua DPRD Sintang, Jeffray Edward berharap tak ada lagi terjadi Karhutla.

Dikataknnya kebakaran hutan dan lahan berdampak pada rusaknya ekosistem dan musnahnya flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di hutan. Asap yang ditimbulkan juga menjadi polusi udara yang dapat menyebabkan penyakit pada saluran pernafasan seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), asma, penyakit paru obstruktif kronik. Selain itu, asap bisa mengganggu jarak pandang, terutama untuk transportasi penerbangan.

“Kita berharap tidak terjadi lagi Karhutla tahun 2019 ini, khususnya di Kabupaten Sintang,” ujar Jeffray.

Dampak lainnya kebakaran hutan dan lahan menyebakan tersebarnya asap dan emisi gas karbondioksida dan gas-gas lain ke udara yang berdampak pada pemanasan global dan perubahan iklim. Kebakaran hutan akan menyebabkan hutan menjadi gundul sehingga tak mampu menampung cadangan air saat musim hujan. Hal ini yang menjadi faktor terjadinya tanah longsor maupun banjir. Berkurangnya sumber air bersih dan menyebabkan kekeringan karena kebakaran hutan menyebabkan hilangnya pepohonan yang menampung cadangan air.

Jeffray juga meminta kepada para petani, cara-cara bercocok tanam yang masih dengan membakar lahan harus diganti dengan cara yang modern. Menurutya masyarakat bisa berperan dengan ikut mengawasi dan memantau titik rawan kebakaran hutan atau mewaspadai daerah dengan potensi kebakaran hutan tinggi.

Ketika musim kemarau atau berangin, sebaiknya jangan sembarangan melakukan pembakaran. Jangan membakar atau membuang puntung rokok pada rumput, semak kering di lokasi yang rawan terbakar. Jangan membuka lahan perkebunan dengan cara membakar hutan. Jika melakukan aktivitas pembakaran, usahakan dilakukan dengan minimal jarak 50 kaki dari bangunan dan 500 kaki dari hutan. Penting untuk memastikan api telah padam setelah melakukan aktivitas pembakaran.

“Itu harapan kita, kalau pun masih ada kebakaran lahan, jangan sampai besar sehingga menimbulkan kabut asap yang sangat banyak,” katanya.

Memang kata Jeffray, dirinya memahami sekali kebiasaan masyarakat lokal yang masih banyak melakukan berladang dengan cara membakar. Hanya saja, itu harus ditinggalkan dengan cara berlahan-lahan. “Kita dari pemerintah dan tentu aparat penegak hukum juga terus mensisialosasikan, supaya kebakaran lahan yang merugikan ini bisa ditekan. Peran serta penyuluh lapangan, terutama bidang pertanian juga harus lebih gencar,” pintanya.

Ia melihat, bahwa program pemerintah dengan pembukaan cetak sawah juga mesti difollow up terus. Jangan menyerah memberikan pemahaman agar dapat bercocok tanam dengan benar dari program cetak sawah tersebut. “Karena saya melihat, masih ada beberapa sawah yang digarap melalui cetak sawah ini belum maksimal. Maka dari itu, pelaksanaannya mesti baik sehingga menjadi sawah yang baik pula,” pungkasnya. (red)

Timot Timot

Related posts

*

*

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Top