Dewan Sintang Sebut Penertiban Petasan “Buah Simalakama”

Anggota Komisi C DPRD Sintang, Tuah Mangasih, ST,. M.Si. FOTO:TIMO

SINTANG [www.mediakapuasraya.com]- Anggota Komisi C DPRD Kabupaten Sintang, Tuah Mangasih mengatakan penertiban petasan pada saat menjelang hari besar keagamaan ibaratkan buah simalakama. Seperti memasuki bulan suci Ramadhan tahun 2019 ini keberadaan petasan sulit dihilangkan.

“Karena dari kecil setiap memasuki bulan puasa petasan selalu ada dan selalau dimainkan,” ungkap Tuah Mangasih, Rabu (08/05/2019)

Saat ini pedagan petasan mulai membanjiri Kota Sintang bahkan  saat ini mudah ditemukan dimana saja. Tuah Mangasih menilai hal ini perlu adanya pantauan khusus dari pihak berwenang, agar petasan yang dijual tersebut tak menyalah aturan dan tentutnya tak menganggu umat muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. “Memang tidak semua jenis petasan dilarang. Sudah ada ketentuan terkait Produksi dan penggunaaannya,” terang Tuah.

Petasan dengan ukuran panjangnya kurang dari dua inchi, tidak memerlukan izin pembelian dan penggunaan, sehingga dapat diperjualbelikan kepada masyarakat. Namun, petasan yang berukuran dua hingga delapan inchi, penjualan, pembelian, dan penggunaannya harus ada izin dari Baintelkam Mabes Polri, dan itu untuk kepentingan pertunjukan (show).

Perbedaan antara kembang api yang diizinkan dan yang dilarang ini telah diatur dalam Undang Undang Bunga Api tahun 1932 dan Perkap No 2 thn 2008 tentang pengawasan, pengendalian, dan pengamanan bahan peledak komersil.

Jadi lanjut Politisi PDI Perjuangan ini petasan saat bulan ramadhan, memang sulit untuk menghilangkannya. Hanya saja aturan-aturan tetap harus ditegakan. Maka dari itu, Tuah mengatakan harus ada caranya atau solusi untuk menertibkan petasan ini tanpa harus menghilangkannya.

“Harus ada regulasi yang mengatur tentang petasan ini selayaknya perlu diketahui masyarakat perbedaan kembang api dengan petasan atau mercon agar masyarakat lebih memahami, mana yang boleh dan mana yang tidak diperbolehkan,” ungkap Tuah.

Lebih baik kata Tuah masyarak diimbau atau di edukasi  bermain petasan di lokasi khusus tempat permainannya, begitu juga penjualnya pasti ada aturan yang harus diikutinya.  “ itu solusi dalam penertiban itu, tidak dilarang tapi diatur sedemikian rupa, seperti tidak bermain dekat pemukiman warga atau tempat ibadah dengan adanya solusi seperti itu, tidak ada pihak yang merasa dirugikan,” pungkasnya. (mo)

Timot Timot

Related posts

Top