Lomba Menumbuk Padi Wadah Pelestarian Kearifan Lokal

SINTANG [www.mediakapuasraya.com]-Menyulap padi menjadi beras dengan cara tradisional seperti menumbuk padi merupakan kearifan lokal masyarakat Kabupaten Sintang yang terus terpelihara hingga saat ini.

Pada Pekan Gawai Dayak Kabupate Sintang Tahun 2018 di Stadion Baning, Rabu (18/07/2018), diadakan lomba menumbuk padi antar kecamatan, kelompok dan sanggar seni yang ada di kabupaten Sintang.

Ketua DPRD Sintang Jeffray Edward mengatakan lomba menumbuk padi sambil mengenakan pakaian adat dayak merupakan cara untuk melestariakan adat dan budaya dayak yang ada di Sintang. Menurut Jeffray kegiatan lomba menumbuk padai adalah upaya untuk mendorong pelesarian budaya.

“Tujuannya selain sebagai kegiatan untuk memeriakan gawai dayak juga untuk melestariakan kearifan lokal,” kata Jeffray saat Hadir bersama Bupati Sintang menyaksikan lomba Menumbuk Padi

Politisi PDI Perjuangan ini berharap  lomba menumbuk padi ini terus digelar dalam even gawai dayak sebagai wadah untuk menjaga kelestariannya.

“Kegiatan yang mewadahipeletarian adat dan budaya perlu dilakukan,” tandasnya.

Bupati Sintang Jarot Winarno mengatakan menumbuk padi memiliki nilai filosofi yang tinggi mengenai kebersamaan di masyarakat sejak dahulu.

“Setelah panen untuk dapat menikmati hasilnya masyarakat bergotong royong megolah padi, nilai kebersamaanya itu sangat tinggi,” kata Jarot.

Menurut orang Nomor satu di Sintang  yang juga seorang dokter ini, mengkonsumsi beras yang ditumbuk jauh lebih sehat dibanding beras yang diolah secara modern.

“Beras hasil tumbukan lebih bergizi dari pada yang pakai mesin,” ujar Jarot.

__Terbit pada
19/07/2018
__Kategori
Parlemen, Sintang

Penulis: Admin Media Kapuas Raya